A. Konsep Sehat
Sehat itu berarti suatu
kondisi dimana seluruh bagian dari manusia bekerja sama dengan baik sehingga
individu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Kita sebagai makhluk
hidup juga memiliki kesamaan dengan makhluk yang lainnya yakni lahir, tumbuh,
berkembang, mengalami dinamika stabil-labil, sehat-sakit, normal-abnormal, dan
berakhir dengan kematian. Sebagian besar ilmu pengetahuan dan teknologi yang
disusun dan dibangun oleh manusia adalah untuk kepentingan diri manusia itu sendiri,
menyangkut kesehatannya, kenyamanannya, kesejahteraannya dan semua hal yang
dipandang dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Meski demikian, banyak hal yang
dilakukan oleh manusia tidak jarang membuat manusia menjadi semakin tidak sehat
dan tidak nyaman dalam hidupnya.
Dalam kehidupan
sehari-hari pasti kita menggunakan istilah sehat
wal afiat untuk menyebut kondisi yang bugar dan prima, tetapi jika kita
merujuk kepada asal istilah itu yakni “as shihhah wa al `afiyah” disitu ada dua
dimensi pengertian. Kata ‘sehat’ merujuk pada fungsi, sedangkan kata ‘afiat’
merujuk kepada kesesuaian dengan maksud penciptaan. Mata yang sehat adalah mata
yang dapat digunakan untuk melihat tanpa alat bantu, sedangkan mata yang afiat
adalah mata yang tidak bisa digunakan untuk melihat sesuatu yang dilarang
melihatnya, misalnya mengintip orang mandi, karena maksud Tuhan menciptakan
mata adalah sebagai penunjuk pada kebenaran, membedakannya dari yang salah.
Kita juga tidak hanya
mengenal kesehatan tubuh tetapi juga kesehatan mental dan bahkan kesehatan
masyarakat. Jika kita lihat bangsa sekarang ini, nampaknya bangsa ini memang
sedang tidqak sehat dan juga tidak afiat. Akibatnya banyak hal yang menjadi
tidak berfungsi. Sering kita mendengar ungkapan orang itu yang penting hatinya,
yang penting jiwanya. Dalam perspektif ini, hakikat manusia adalah jiwanya.
Orang gila secara fisik adalah manusia, tetapi ia sudah tiodak diperhitungkan
karena jiwanya sakit atau tidak berfungsi. Orang gila tidak menyadari sakitnya,
tetapi orang yang mengalami gangguan kejiwaan, ia menyadari jiwanya sedang
terganggu. Orang gila tidak bisa berpikir mengenai dirinya, sedangkan orang
yang terganggu jiwanya justru selalu berpikir dan bertanya, mengapa aku begini.
Dari ini maka kita mengenal ada rumah sakit umum, rumah sakit jiwa dan lembaga
bimbingan mental atau konseling. (El Qudey, 1989: 45).
Sumber : Rochman,
Khalil. 2010. Kesehatan Mental.
Purwokerto: FAJAR MEDIA FRESS
B. Sejarah Perkembangan Kesehatan
Mental
1.
Periode
Pra-Ilmiah
Sejak zaman dulu sikap
terhadap ganggiuan kepribadian atau mental telah muncul dalam konsep primitif
animisme, ada kepercayaan bahwa dunia ini diawasi atau dikuasai oleh roh-roh
atau dewa-dewa. Perubahan sikap terhadap tradisi animisme terjadi pada zaman Hipocrates
(460-467). Dia dan pengikutnya mengembangkan pandangan revolusioner dalam
pengobatan, yaitu dengan menggunakan pendekatan naturalisme, suatu aliran yang
berpendapat bahwa gangguan mental atau fisik itu merupakan akibat dari alam.
Dalam pendekatan
selanjutnya, pendekatan naturalistik ini tidak dipergunakan lagi di kalangan
orang-orang Kristen. Seorang dokter Perancis, Philipe Pinel (1745-1826)
menggunakan filsafat politik dan sosial untuk memecahkan problem penyakit
mental. Dia telah terpilih menjadi kepala Rumah Sakit Bicetre di Paris. Di
rumah sakit ini, para pasiennya (yang maniac) dirantai, diikat ditembok dan di
tempat tidur. Para pasien yang telah dirantai selama 20 tahun atau lebih, dan
mereka dipandang sangat berbahaya dibawa jalan-jalan di sekitar rumah sakit.
Akhirnya, diantara mereka banyak yang berhasil, mereka tidak menunjukkan lagi
kecendrungan untuk melukai atau merusak dirinya sendiri.
2.
Era
Ilmiah
Perubahan
yang sangat berarti dalam sikap dan era pengobatan gangguan mental, yaitu dari
animisme (irrasional) dan tradisional
ke sikap dan cara yang rasional
(ilmiah), terjadi pada saat berkembangnya psikologi
abnormal dan psikiatri di Amerika Serikat, yaitu pada tahun 1783.
Perkembangan
psikologi abnormal dan psikiatri ini memberikan pengaruh kepada lahirnya mental hygiene yang berkembang menjadi
suatu body of knowledge berikut
gerakan-gerakan yang teorganisir. Perkembangan kesehatan mental dipengaruhi
oleh gagasan, pemikiran dan ispirasi para ahli, dalam hal ini terutama dari dua
tokoh perintis, yaitu Dorothea Lynde dan Clifford Whittingham Beers.kedua orang
ini banyak mendedikasikan hidupnya dalam bidang pencegahan dan gangguan mental
dan pertolongan bagi orang-orang miskin dan lemah.
Beers
meyakini bahwa penyakit atau gangguan mental dapat dicegah atau desembuhkan.
Selanjutnya dia merancang suatu program yang bersifat nasional tujuan
(Langgulung, 1986: 23):
1. Mereformasi
program perawatan dan pengobatan terhadap orang-orang pengidap penyakit jiwa.
2. Melakukan
penyebaran informasi kepada masyarakat agar mereka memiliki pemahaman dan sikap
yang positif terhadap para pasien yang mengidap gangguan atau penyakit jiwa.
3. Mendorong
dilakukannya berbagai penelitian tentang kasus-kasus dan pengobatan gangguan
mental.
4. Mengembangkan
praktik-praktik untuk mencegah gangguan mental.
Program
Beers ini ternyata mendapat respon positif dari kalangan masyarakat, terutama
kalangan para ahli, seperti William James dan seorang psikiatris ternama, yaitu
Adolf Mayer. Begitu tertariknya terhadap gagasan Beers, Adolf Mayer.
menyarankan untuk menamai gerakan itu dengan nama “Mental Hygiene”. Dengan demikian yang mempopulerkan istilah “Mental Hygiene” adalah Mayer.
Secara
hukum gerakan kesehatan mental ini mendapatkan pengukuhannya pada tanggal 3
Juli 1946. Pada tahun 1950 organisasi kesehatan mental terus bertambah, yaitu
dengan berdirinya National Association for Mental Health yang bekerja sama
dengan tiga organisasi swadaya masyarakat lainnya yaitu, National Committee for
Mental Hygiene, National Mental Health Foundation, dan Psychiatric Foundation.
Gerakan kesehatan mental ini terus berkembang, sehingga pada tahun 1975 di
Amerika Serikat terdapat lebih dari seribu tempat perkumpulan kesehatan mental.
Sumber : Rochman,
Khalil. 2010. Kesehatan Mental.
Purwokerto: FAJAR MEDIA FRESS
C. Pendekatan Kesehatan Mental
Menurut Saparinah Sadli,
mengemukakan tiga orientasi dalam kesehatan jiwa, yaitu :
1. Orientasi Klasik
Seseorang dianggap sehat
bila dia tidak mempunyai kelakuan tertentu, seperti ketegangan, rasa lelah,
cemas, rendah diri atau perasaan tak berguna, yang semuanya menimbulkan
perasaan “sakit” atau rasa “tak sehat” serta mengganggu efisiensi kegiatan
sehari-hari. Aktivitas klasik ini banyak dianut di lingkungan kedokteran.
2. Orientasi Penyesuain Diri
Orientasi penyesuian
diri orang dianggap sehat secara psikologis bila mampu mengembangkan dirinya
sesuai dengan tuntutan orang-orang lain serta lingkungan sekitarnya.
3. Orientasi Pengembangan Potensi
Seseorang dikatakan
mencapai tarap kesehatan jiwa, bila ia mendapatkan kesempatan untuk
mengembangkan potensialitasnya menuju kedewasaan, ia bisa dihargai oleh orang
lain dan dirinya sendiri. Dalam psiko-terapi (Perawatan Jiwa) ternyata yang
menjadi pengendali utama dalam setiap tindakan dan perbuatan seseorang bukanlah
akal pikiran semata-mata, akan tetapi yang lebih penting dan kadang-kadang
sangat menentukan adalah perasaan. Dapat dikatakan bahwa keharmonisan antara
pikiran dan perasaanlah yang membuat tindakan seseorang tampak matang dan
wajar. Sehingga dapat dikatakan bahwa tujuan Hygiene mental atau Kesehatan
mental adalah mencegah timbulnya gangguan mental dan gangguan emosi, mengurangi
atau menyembuhkan penyakit jiwa serta memajukan jiwa.
Sumber :
Sundari,
Siti.(2005). Kesehatan Mental Dalam Kehidupan.Rineka Cipta :
Jakarta
Nama : chairani meiza
NPM : 11511601
Mata Kuliah : kesehatan mental
Tidak ada komentar:
Posting Komentar