Rabu, 27 Maret 2013

KESEHATAN MENTAL


A.  Konsep Sehat

Sehat itu berarti suatu kondisi dimana seluruh bagian dari manusia bekerja sama dengan baik sehingga individu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Kita sebagai makhluk hidup juga memiliki kesamaan dengan makhluk yang lainnya yakni lahir, tumbuh, berkembang, mengalami dinamika stabil-labil, sehat-sakit, normal-abnormal, dan berakhir dengan kematian. Sebagian besar ilmu pengetahuan dan teknologi yang disusun dan dibangun oleh manusia adalah untuk kepentingan diri manusia itu sendiri, menyangkut kesehatannya, kenyamanannya, kesejahteraannya dan semua hal yang dipandang dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Meski demikian, banyak hal yang dilakukan oleh manusia tidak jarang membuat manusia menjadi semakin tidak sehat dan tidak nyaman dalam hidupnya.

Dalam kehidupan sehari-hari pasti kita menggunakan istilah sehat wal afiat untuk menyebut kondisi yang bugar dan prima, tetapi jika kita merujuk kepada asal istilah itu yakni “as shihhah wa al `afiyah” disitu ada dua dimensi pengertian. Kata ‘sehat’ merujuk pada fungsi, sedangkan kata ‘afiat’ merujuk kepada kesesuaian dengan maksud penciptaan. Mata yang sehat adalah mata yang dapat digunakan untuk melihat tanpa alat bantu, sedangkan mata yang afiat adalah mata yang tidak bisa digunakan untuk melihat sesuatu yang dilarang melihatnya, misalnya mengintip orang mandi, karena maksud Tuhan menciptakan mata adalah sebagai penunjuk pada kebenaran, membedakannya dari yang salah.

Kita juga tidak hanya mengenal kesehatan tubuh tetapi juga kesehatan mental dan bahkan kesehatan masyarakat. Jika kita lihat bangsa sekarang ini, nampaknya bangsa ini memang sedang tidqak sehat dan juga tidak afiat. Akibatnya banyak hal yang menjadi tidak berfungsi. Sering kita mendengar ungkapan orang itu yang penting hatinya, yang penting jiwanya. Dalam perspektif ini, hakikat manusia adalah jiwanya. Orang gila secara fisik adalah manusia, tetapi ia sudah tiodak diperhitungkan karena jiwanya sakit atau tidak berfungsi. Orang gila tidak menyadari sakitnya, tetapi orang yang mengalami gangguan kejiwaan, ia menyadari jiwanya sedang terganggu. Orang gila tidak bisa berpikir mengenai dirinya, sedangkan orang yang terganggu jiwanya justru selalu berpikir dan bertanya, mengapa aku begini. Dari ini maka kita mengenal ada rumah sakit umum, rumah sakit jiwa dan lembaga bimbingan mental atau konseling. (El Qudey, 1989: 45).
Sumber : Rochman, Khalil. 2010. Kesehatan Mental. Purwokerto: FAJAR MEDIA FRESS
B.  Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental

1.         Periode Pra-Ilmiah
Sejak zaman dulu sikap terhadap ganggiuan kepribadian atau mental telah muncul dalam konsep primitif animisme, ada kepercayaan bahwa dunia ini diawasi atau dikuasai oleh roh-roh atau dewa-dewa. Perubahan sikap terhadap tradisi animisme terjadi pada zaman Hipocrates (460-467). Dia dan pengikutnya mengembangkan pandangan revolusioner dalam pengobatan, yaitu dengan menggunakan pendekatan naturalisme, suatu aliran yang berpendapat bahwa gangguan mental atau fisik itu merupakan akibat dari alam.

Dalam pendekatan selanjutnya, pendekatan naturalistik ini tidak dipergunakan lagi di kalangan orang-orang Kristen. Seorang dokter Perancis, Philipe Pinel (1745-1826) menggunakan filsafat politik dan sosial untuk memecahkan problem penyakit mental. Dia telah terpilih menjadi kepala Rumah Sakit Bicetre di Paris. Di rumah sakit ini, para pasiennya (yang maniac) dirantai, diikat ditembok dan di tempat tidur. Para pasien yang telah dirantai selama 20 tahun atau lebih, dan mereka dipandang sangat berbahaya dibawa jalan-jalan di sekitar rumah sakit. Akhirnya, diantara mereka banyak yang berhasil, mereka tidak menunjukkan lagi kecendrungan untuk melukai atau merusak dirinya sendiri.

2.         Era Ilmiah
Perubahan yang sangat berarti dalam sikap dan era pengobatan gangguan mental, yaitu dari animisme (irrasional) dan tradisional ke sikap dan cara yang rasional (ilmiah), terjadi pada saat berkembangnya psikologi abnormal dan psikiatri di Amerika Serikat, yaitu pada tahun 1783.

Perkembangan psikologi abnormal dan psikiatri ini memberikan pengaruh kepada lahirnya mental hygiene yang berkembang menjadi suatu body of knowledge berikut gerakan-gerakan yang teorganisir. Perkembangan kesehatan mental dipengaruhi oleh gagasan, pemikiran dan ispirasi para ahli, dalam hal ini terutama dari dua tokoh perintis, yaitu Dorothea Lynde dan Clifford Whittingham Beers.kedua orang ini banyak mendedikasikan hidupnya dalam bidang pencegahan dan gangguan mental dan pertolongan bagi orang-orang miskin dan lemah.

Beers meyakini bahwa penyakit atau gangguan mental dapat dicegah atau desembuhkan. Selanjutnya dia merancang suatu program yang bersifat nasional tujuan (Langgulung, 1986: 23):
1.      Mereformasi program perawatan dan pengobatan terhadap orang-orang pengidap penyakit jiwa.
2.      Melakukan penyebaran informasi kepada masyarakat agar mereka memiliki pemahaman dan sikap yang positif terhadap para pasien yang mengidap gangguan atau penyakit jiwa.
3.      Mendorong dilakukannya berbagai penelitian tentang kasus-kasus dan pengobatan gangguan mental.
4.      Mengembangkan praktik-praktik untuk mencegah gangguan mental.
Program Beers ini ternyata mendapat respon positif dari kalangan masyarakat, terutama kalangan para ahli, seperti William James dan seorang psikiatris ternama, yaitu Adolf Mayer. Begitu tertariknya terhadap gagasan Beers, Adolf Mayer. menyarankan untuk menamai gerakan itu dengan nama “Mental Hygiene”. Dengan demikian yang mempopulerkan istilah “Mental Hygiene” adalah Mayer.
Secara hukum gerakan kesehatan mental ini mendapatkan pengukuhannya pada tanggal 3 Juli 1946. Pada tahun 1950 organisasi kesehatan mental terus bertambah, yaitu dengan berdirinya National Association for Mental Health yang bekerja sama dengan tiga organisasi swadaya masyarakat lainnya yaitu, National Committee for Mental Hygiene, National Mental Health Foundation, dan Psychiatric Foundation. Gerakan kesehatan mental ini terus berkembang, sehingga pada tahun 1975 di Amerika Serikat terdapat lebih dari seribu tempat perkumpulan kesehatan mental.
Sumber : Rochman, Khalil. 2010. Kesehatan Mental. Purwokerto: FAJAR MEDIA FRESS

C.  Pendekatan Kesehatan Mental
Menurut Saparinah Sadli, mengemukakan tiga orientasi dalam kesehatan jiwa, yaitu :
1.      Orientasi Klasik
Seseorang dianggap sehat bila dia tidak mempunyai kelakuan tertentu, seperti ketegangan, rasa lelah, cemas, rendah diri atau perasaan tak berguna, yang semuanya menimbulkan perasaan “sakit” atau rasa “tak sehat” serta mengganggu efisiensi kegiatan sehari-hari. Aktivitas klasik ini banyak dianut di lingkungan kedokteran.
2.      Orientasi Penyesuain Diri
Orientasi penyesuian diri orang dianggap sehat secara psikologis bila mampu mengembangkan dirinya sesuai dengan tuntutan orang-orang lain serta lingkungan sekitarnya.
3.      Orientasi Pengembangan Potensi
Seseorang dikatakan mencapai tarap kesehatan jiwa, bila ia mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensialitasnya menuju kedewasaan, ia bisa dihargai oleh orang lain dan dirinya sendiri. Dalam psiko-terapi (Perawatan Jiwa) ternyata yang menjadi pengendali utama dalam setiap tindakan dan perbuatan seseorang bukanlah akal pikiran semata-mata, akan tetapi yang lebih penting dan kadang-kadang sangat menentukan adalah perasaan. Dapat dikatakan bahwa keharmonisan antara pikiran dan perasaanlah yang membuat tindakan seseorang tampak matang dan wajar. Sehingga dapat dikatakan bahwa tujuan Hygiene mental atau Kesehatan mental adalah mencegah timbulnya gangguan mental dan gangguan emosi, mengurangi atau menyembuhkan penyakit jiwa serta memajukan jiwa.

Sumber :
Sundari, Siti.(2005). Kesehatan Mental Dalam Kehidupan.Rineka Cipta :
                                                Jakarta

Nama : chairani meiza
NPM : 11511601
Mata Kuliah : kesehatan mental

Tidak ada komentar:

Posting Komentar